PEGERAKAN MAHASISWA INDONESIA
Melihat sejarah bangsa Indonesia yang begitu kompleks dan panjang, maka tidak
dapat dipungkiri bahwasanya gerakan kaum terpelajar atau yang biasa disebut gerakan mahasiswa merupakan salah satu elemen yang memiliki peranan penting dalam cer bangsaita sejarah bangsa ini baik sebelum kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan, sebelum reformasi ataupun
setelah reformasi yang tak jarang didalamnya terdapat letupan-letupan politik yang merupakan imbas dari
pertarungan politik antar penguasa. Dalam banyak masalah politik, gerakan mahasiswa seringkali mendapat
peran strategis, yang mana ikut menentukan keadaan kedepannya.
Gerakan mahasiswa di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Gerakan inipun selalu
mengalami perubahan dari masa ke masa dalam hal pengkodisian terhadap
perpolitikan Indonesia. Gerakan mahasiswa
atau gerakan terpelajar di Indonesia dapat dibagi pada beberapa fase-fase yang
ditandai dengan pergolakan politik yang sangat besar. Fase-fase tersebut antara
lain :
1.
Gerakan mahasiswa
sebelum kemerdekaan.
2.
Gerakan mahasiswa memperjuangkan kemerdekaan dan era orla hingga 1965.
3.
Gerakan mahasiswa era
orba hingga reformasi 1998.
4.
Gerakan mahasiswa
pasca reformasi hingga kini.
Berikut uraian singkat mengenai beberapa fase di atas :
1.Gerakan Mahasiswa Sebelum Kemerdekaan
Pada abad ke-18 seiring dengan dibagunnya
sekolah-sekolah oleh belanda seiring pula dengan tumbuhnya gerakan kaum
terpelajar di Indonesia. Selain lembaga pendidikan yang dikelola oleh
pemerintah colonial belanda, ada juga beberapa model sekolah yang didirikan
oleh bangsa sendiri seperti pada tahun 1904 didirikan sekolah R. Dewi Sartika
yang pada awalnya bernama sekolah isteri yang kemudia berubah menjadi sekolah
keutamaan isteri. Munculnya sekolah-sekolah yang dikelola oleh kaum perempuan
juga menandai dimulainya gerakan perempuan di Indonesia. Beberapa organisasi
perempuan mulai bermunculan dan semakin menjadi gerakan politik yang cukup
penting dan semakin kuat dalam mengambil peran-peran strategis dalam
gerakan-gerakan yang ada seperti SI, PKI, PNI dan PERMI.
Muncul dan berkembangnya sekolah-sekolah tersebuat mendorong lahirnya
organisasi-organisasi sosial. Pada tahun 1906 sarikat priyayi dan disusul pada
tahun 1908 berdiri budi utomo yang dimotori oleh beberapa tokoh seperti E
Douwes Dekker dan Wahidin soediro Hoesodo dimana mereka merupakan mahasiswa
dari STOVIA yang pada awal-awal berdirinya bertujuan untuk memajukan hindia.
Awalnya budi utomo dalam pergerakannya dibatasi hanya mencakup pada daerah jawa
dan Madura dan mengalami perkembangan meluas hingga seluruh hindia dan tidak
terbatas keanggotaannya. Namun seiring dengan bertambah luasnya dukungan
terhadap budi utomo seperti datang dari kalangan cendikiawan jawa, posisi
pelajar didalam budi utomo semakin tergeser oleh generasi yang lebih tua hingga
kongres budi utomo yang dibuka di Yogyakarta, pimpinan organisasi beralih pada
kalangan-kalangan tua dan juga para priyayi rendahan. Budi utomo sendiri
bergerak pada beberapa bidang seperti pendidikan dan budaya. Pasca kongres
Yogyakarta budi utomo kembali membatasi wilayah geraknya hanya pada daerah jawa
dan Madura dan tidak mau melibatkan diri pada dalam kegiatan politik.
Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam
Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia)
kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan
di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk
kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam
diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia
(Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober
1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan
oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang
dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925. Suatu gejala yang tampak pada
gerakan mahasiswa dalam pergolakan politik di masa kolonial hingga menjelang
era kemerdekaan adalah maraknya pertumbuhan kelompok-kelompok studi sebagai
wadah artikulatif di kalangan pelajar dan mahasiswa. Diinspirasi oleh
pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan
Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh
elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, kelompok Studi
St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten
Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS)
bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an. Ketika itu, disamping organisasi
politik memang terdapat beberapa wadah perjuangan pemuda yang bersifat
keagamaan, kedaerahan, dan kesukuan yang tumbuh subur, seperti Jong Java, Jong
Sumateranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain. Dari kebangkitan kaum
terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya
generasi baru pemuda Indonesia: generasi 1928. Maka, tantangan zaman yang
dihadapi oleh generasi ini adalah menggalang kesatuan pemuda, yang secara tegas
dijawab dengan tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah
Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada
26-28 Oktober1928, dimotori oleh PPP.
2. Gerakan mahasiswa pasca kemerdekaan (orla)
hingga 1965

Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang
ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap
penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk secara terbuka
mentransformasikan eksistensi wadah mereka menjadi partai politik, terutama
dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia
berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum
menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Seiring dengan keluarnya Belanda
dari tanah air, perjuangan kalangan pelajar dan mahasiswa semakin jelas arahnya
pada upaya mempersiapkan lahirnya negara Indonesia di masa pendudukan Jepang.
Namun demikian, masih ada perbedaan strategi dalam menghadapi penjajah, yaitu
antara kelompok radikal yang anti Jepang dan memilih perjuangan bawah tanah di
satu pihak, dan kelompok yang memilih jalur diplomasi namun menunggu peluang
tindakan antisipasi politik di pihak lain. Meskipun berbeda kedua strategi
tersebut, pada prinsipnya bertujuan sama : Indonesia Merdeka ! Secara umum
kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh
lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan
melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik dan hal ini
ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa,
termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran
Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan. Praktis, akibat
kondisi yang vacuum tersebut maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih
untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para
pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam
sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng
Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya
menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa. Salah satu
peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok “bawah
tanah” yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang
terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya
memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa
Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok itu dilatarbelakangi oleh adanya
perbedaan pandangan antar generasi Mahasiswa pada tahun 1945, Revolusi Nasional
17 Agustus 1945 pada pukul sepuluh, Pembacaan Teks Proklamasi yang dibacakan
Soekarno dan didampingi Bung Hatta di kediaman Soekano, Jalan Pegangsahan Timur
56 serta dilanjutkan oleh Pengibaran Bendera Merah-Putih di halaman rumah oleh
Thudarjo Peta, Abdulatif Herdaningrat disambut dengan lagu Indonesia Raya oleh
para hadirin, merupakan Tonggak awal perwujutan Revolusi Nasional.
Peran Kaum muda dalam pencutusan Proklamsi memng tidak bisa dimunafikan,
Penyerahan Jepang atas Sekutu pada tanggal 14-15 Agustus 1945 telah di dengar
oleh grup-grup pemuda dari berita lewat orang-orang yang bekerja di Domei
(Kantor Berita Jepang) antara lain Adam malik dan Syahrir, pada tanggal 15
Agustus 1945 pukul 19.00 di Insitut Baktereologi Pegangsahan, kaum muda
mengadakan pertemuan antara lain: Chairul Saleh, Wikana, Aidit, Djohar Nur,
Pardjono, Abu Bakar, Soedewo, pertemuan tersebut mengambil sebuah kesimpulan ”
Kemerdekaan Indonesia menjadi sebuah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri
harus dinyatakan dengan jalan Proklamasi ” dan hasil pertemuan tersebut akan
disampaikan ke Soekarno – Hatta serta menolak semua hubungan ikatan-ikatan
bahwa Kemerdekaan adalah pemberian hadiah atas janji-janji Jepang. Pada pukul
04.00 tanggal 16 agustus 1945, kaum muda mendelegasikan Dr Muwardi (Barisan
Pelopor Istimewa) menjemput Soekarno, sedangkan Bung Hatta dijemput oleh
Sukarni dan Jusuf Kanto dalam proses penjemputan tersebut kaum muda
menjelaskan, keadaan di Jakarta sangat Genting, dimana Pemberontakan Kaum Muda
yang didukung oleh tentara Heiho dan Peta sudah disiapkan, demi menjamin
keselamatan mereka harus diamankan di Rengesdengklok (menurut Imam Soejono,
Rengesdengklok merupakan Markas/Asrama Peta tjudan (kompi) di sebuah kota
kecil, di rengesdengklok ini terdapat sebuah gerakan bawah tanah
anggota-anggota pasukan Peta yang bernama “Sapu Mas” yang dipimpin oleh
Shodanjo (komandan seksi/pleton) Umar Bhaksan.
Menjelang peristiwa ini sebenarnya sudah ada kontak antara Shodanjo Umar
Bhaksan denga kekutan-kekutan bersenjata lain yang anti-jepang seperti Tjidan
Inramayu dan Tjilamaya {sebelah timur Rengesdengklok} nuntuk mempersiapkan
kekutan bersenjata melawan jepang) atas persetujuan kaum muda, utusan Maeda
pergi ke Rengesdengklok untuk mengurus kepulangan Soekarno-Hatta ke Jakarta dan
segera menuju ke rumah Maeda. pada larut malam Soekarno-Hatta sampai di rumah
Maeda,disana panitia persipan sudah menunngu, dan sekitar jam tiga pagi teks
Proklamasi yang telah disusun dengan formulasi dari Soekarno, diedarkan ke pada
hadirin, dalam penyusunan teks itu menimbulkan masalah terutama perwakilan dari
kaum muda, yaitu masalah siapa yang akan mendatangani teks proklamasi tersebut,
Pimpinan kaum muda menolak teks tersebut ditantangani atas nama panitia
persipan, karena, menurut pimpinan kaum muda, sekutu kan meng-cap Republik
sebagai bikinan Jepang, dan akhirnya digunkan kata “Atas Nama Bangsa Indonesia”
dengan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Patut menjadi sebuah catatan
penting, Pembacaan teks Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, yang
dipersipakan oleh kaum muda dan rakyat sejak tanggal 14-17 Agustus merupkan
bukti sejrah bahwa “Bangsa ini menytakan pembentukan Republik Proklamasi bukan
atas bikinin Jepang’ tapi merupakan hasil jerih payah kaum muda (yang terdidik
serta revolusioner) dan Rakyat yang sadar atas kedaulatannya. dan pada saat
persipan pembentukan teks Proklamasi, disana hadir pimpinan pemuda dan anggota
PPKI tak seorang jepangpun yang hadir dalam pertemuan tersebut.
3. Gerakan mahasiswa era orba hingga reformasi
1998

Masuknya ribuan investasi dari pemodal asing di Indonesia (sejak
1957—bahkan dengan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing) yang pada
akhirnya justru menimbulkan suatu sistem penindasan yang sungguh amat sangat
luar biasa sekali bagi rakyat Indonesia. Pembangunan fisik berupa
bangunan-bangunan monumental ramai digalakkan. Sementara itu, kehidupan
perekonomian masyarakat memperlihatkan gejala ‘yang kaya makin kaya, yang
miskin makin miskin’ dalam kasus yang sangat memprihatinkan. Harga sembako
membludak, kelaparan terjadi dimana-mana. Keadaan perekonomian di tanah
air kian tidak terkendali sebagai akibat adanya depresi ekonomi pada sekitar
dekade 60-an yang semakin parah saja. Hal ini menyebabkan pemerintah
mengeluarkan berbagai kebijakan baru seperti pemotongan nilai mata uang (Sanering)
yang justru semakin mempersulit kehidupan rakyat Indonesia. Inflasi meningkat
tajam. Mahasiswa juga mengalami tragedi semacam ini, hanya saja kodratnya
sebagai pemuda intelektual menuntut untuk bertindak lebih realis dan tegas pada
pemerintah daripada rakyat yang hanya bisa diam. Tahun 1966 ketika mahasiswa
tumpah ke jalan menuntut Tritura. Para mahasiswa saling menggabungkan diri di dalam
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar
Indonesia (KAPPI) di barisan paling depan. Sebagai bentuk tidak puas terhadap
pemerintah. Aksi tersebut dalam sekejap segera memperolah dukungan dari
berbagai partai politik dan organisasi-organisai massa bahkan militer juga
membentuk aliansi mahasiswa-militer.
Peristiwa 15 januarai 1974 atau dikenal dengan peristiwa Malari dapat
dilihat dari perspektif. Penentangan mahasiswa dengan demonstrasi untuk
menentang modal asing, khususnya modal asing jepang, Peristiwa itu terjadi saat
Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17
Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan
berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat,
rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17
Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan
mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke
pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam. Kasus
15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11
orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187
sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang
dari sejumlah toko perhiasan. Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat
disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu
represi dijalankan secara lebih sistematis.
Gerakan
mahasiswa pada tahun 1978 setelah gerakan angkatan 1966 dengan 1974,
mulai meredup karena telah mulai banyaknya peraturan pemerintahan yang mengikat
dunia kemahasiswaan diantaranya penyeragaman ideologi melalui TAP MPR
no,II/MPR/1978 diberlakukan penataran P4 dengan metode indoktrinasi. serta
peraturan lainya yang terkait dengan kebijakan kampus seperti KKN (Kuliah Kerja
Nyata). Tapi saat tahun 1978 mahasiswa mulai mengetahui ada yang dipaksaan pada
pemerintahan saat itu. Karakteristik mahasiswa tahun 1978 mereka melakukan aksi
protes dengan banyaknya batasan-batasan sehubungan dengan kebijakan pemrintah,
dipertegas lagi oleh kabar dari senayan bahwa Suharto bakal dipilih lagi
menjadi presiden RI. Bertepatan dengan hal itu DPRD Jawa Barat membuat
pernyataan pencalonan kembali Suharto sebagai presiden RI. Mendengar itu,
kurang lebih 1000 mahasiswa ITB turun ke jalan. Pada 16 Januari 1978 mereka
mengadakan apel siaga mengenai pernyataan sikap mahasiswa ITB tidak mengingginkan
Suharto kembali menjadi presiden RI. Aksi mahasiwa merambah ke kota besar lain,
seperti Yogyakarta, dan Surabaya. Jelas aksi gerakan mahasiswa 1978
menggoyahkan kemapanan pemerintahan orde baru. Walaupun begitu tetap akhirnya
gerakan ini digagal kan kerena memang skupnya masih dalam sekala terbatas.
Gerakan masa Setelah gerakan 1978 mulai dibendung oleh pemerintah dengan
banyaknya peraturan mengenai kehidupan kampus serta pergerakanya seperti
semenjak ada peraturan bahwa peran dari setiap kelembagaan mahasiswa setelah
dibentuknya KNPI tahun 1973 yang menyatakan semua organisasi ekstrakampus harus
bernaung dibawah KNPI di kontrol oleh Menpora , kemudian hambatan pergerakan
ditahun ini diberlakukanya Dewan mahasiswa sejak 28 januari 1978 yang melumpuhkan
Ormawa ditingkat universitas maupun nasional, kebijakan ini sesuai dengan
instruksi mendikbud No.01/U/1978 dan SK Mendikbud 07/U/1979, yang menghapuskan
DM dewan mahasiswa serta membatasi kegiatan kemahasiswaan hanya dalam bidang
kesejahteraan , rekreasi serta kegiatan kegiatan akademik serta intelektual.
Kemudian pada puncak nya dengan di berlakukanya NKK/BKK Normalisasi Kegiatan
Kampus dan Badan Kordinasi Kemahasiswaan,yang lebih banyak bermuatan politis
dari pada edukatif , dalam hal ini proses penertiban terhadap mahasiswa sampai
dua dekade berikutnya tidak menglami masalah. Dengan ketetapan SK MENDIKBUD
No.0156/U/78, pada intinya peraturan ini melarang segala macam bentuk politik
serta mengaplikasikanya yang diperbolehkan hanya perbincanganya tanpa aksi
langsung ke lapangan, kemudian dirgen pendidikan tinggi juga menginstruksikan
semua aktivitas kemahasiswaan dibawah pembantu Rektor 3 dibantu dekan 3,
pemberlakukan NKK/BKK juga menimbulkan fenomena Militerisasi kampus, jadi
semenjak tahun 1980 sampai 1990-an mahasiswa dijauhkan kepada rakyat karena
berbagai keputusan tersebut maka di jenjang tahun tersebut timbulah diskusi –
diskusi yang terbangun disetiap kampus. Serta dalam aspek keadaan sosial
ekonomi di indonesia berjalan dengan baik tanpa masalah di mata rakyat yang
tanpa di sadari oleh rakyat pemimpin yang sedang berkuasa selalu menutup
kekurangan pembangunan dengan pimjaman luas negri.
Gerakan Mahasiswa 1998, gerakan ini terkenal sebagai gerakan perubah tatanan pemerintahan dari yang
diktaktor pribadi ke araH revormis, penurunan Soeharto bersama rezimnya ORBA
membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap keadaan kehidupan politik
sosial , budaya, gerakan mahasiswa tahun 1998 yang berhasil meruntuhkan rezim
orde baru merupakan kumpulan dari semua kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa
terhadap pemerintah. Kekecewaan dan ketidakpuasan tersebut ahirnya membuncak
setelah 32 tahun menjbat dan terjadilah gerakan mahasiswa 1998 yang mengusung
agenda reformasi. Terdapat Karakteristik gerakan mahasiswa 1998 yang berbeda
dengan angkatan sebelumnya yaitu mereka berani Menerobos pagar kampus, Menolak
bantuan ABRI, adanya persamaan tujuan yaitu Reformasi. Tujuan dari
gerakan mahasiswa 1998 yaitu ingin menurunkan rezim orde baru karena telah
berbuat kehancuran Negara yang sangat signifikan serta banyak penyelewengan
dalam berbagai aspek dalam menjalankan pemerintahanya selama beberapa dekade
terakhir.
Perjuangan mahasiswa 1998 dimulai saat kondisi ekonomi Indonesia pada saat
itu sedang mengalami krisis moneter serta telah adanya keputusan bahwa soeharto
menjabat lagi untuk lima tahun mendatang disampaing itu semua elemen yang
menentang kediktaktoran dari soeharto turun kejalan untuk menyeruarakan
revormasi Kondisi social politik yang brkecamuk saat itu sangat amburadul
dengan banyaknya terjadi kerusuhan di berbagai tempat, pembakaran , penjarahan
bahwan pemerkosaan terhadap orang–orang keturunan tionghoa, situasi menjadi
kacau balau , sampai puncaknya terjadi Tragedi semanggi I dan II dimana dalam
tragedi tersebut menewaskan 4 mahasiswa Trisakti yang ditembak oleh aparat
keamanan dan puluhan mahasiswa yang terluka . Mahasiswa juga sempat menduduki
dan menyandera gedung MPR/DPR selama 2 hari. Namun hasil dari jerih payah dan
pengorbanan mahasiswa terbayar lunas ketika pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden
Soeharto menyatakan mundur dari jabatan Presiden dan menyerahkannya
kekuasaannya kepada B.J. Habibie. Tetapi pergerakan mahasiswa tidak hanya
berhenti sampai Saat itu setelah masa kekuasaan selanjutnya mahasiswa masih
terus bergerak melawan penyelewengan serta penindasan rakyat. tentang
langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproklamasikan kemerdekaan. Saat itu
Jepang telah menyerah kepada sekutu, dan pemuda (yang cenderung militan dan non
kompromis) menuntut peluang tersebut segera dimanfaatkan, tetapi generasi tua
seperti Soekarno dan Hatta cenderung lebih memperhitungkan situasi secara
realistis. Tetapi akhirnya kedua tokoh proklamator itu mengabulkan keinginan
pemuda, dan memproklamasikan Negara Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus
1945. Dengan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan saat itu, maka
sekaligus menandai lahirnya generasi 1945 dalam sejarah Indonesia.
4. Gerakan mahasiswa pasca reformasi hingga kini
Sejak awal berdirinya, gerakan mahasiswa sudah terbagi
dalam dua aliansi yaitu, kanan
dan kiri. Aliansi kanan cenderung berdasar pada nilai-nilai agama dan moralitas
sehingga meskipun melakukan gerakan besar-besaran, namun tetap rapih dan
tertata. Sedangkan gerakan kiri cenderung mengusung nilai-nilai revolusi yang
memaklumkan adanya korban jiwa di dalamnya. Jika isu yang diusung sama, maka
akan melakukan pergerakan yang sama meski dengan modelnya masing-masing. Yang
membedakan dari tiap gerakan adalah dominasinya, jika didominasi gerakan kanan,
maka kecenderungan akan rusuh dan memakan korban akan sangatlah kecil.
Sebaliknya, jika pergerakan didominasi aliansi kiri, maka siap-siaplah dengan
sejumlah korban jiwa yang bergelimpangan.
Yang terjadi pada era ’98 adalah bersatunya berbagai
model pergerakan mahasiswa sehingga ada yang tertata rapih dan ada yang rusuh.
Beruntung, kondisi saat itu didukung oleh salah satu tokoh gerakan kanan, Amien
Rais, sehingga pergerakan menjadi terarah. Mahasiswa pun berjanji akan terus
mengawal reformasi dengan 6 visinya: amandemen konstitusi, cabut dwi fungsi
TNI, penegakkan supremasi hukum, otonomi daerah, budayakan demokrasi, serta
mengadili Soeharto dan kroninya. Sayang, ternyata 6 visi reformasi ini tidak
berjalan semulus yang diangankan. Hingga kini, penegakkan supremasi hukum dan
mengadili Soeharto dan kroninya belum tercapai (bahkan berubah menjadi
memaafkan seiring dengan kian maraknya prilaku yang lebih busuk darinya).
Perjalananan mahasiswa mengawal 6 visi reformasi
ternyata juga tidak semulus yang dibayangkan karena dari sinilah salah satu
partai politik mulai melakukan kaderisasinya dengan pengakaran melalui
pembentukan jaringan dari skala besar (kampus/wilayah/provinsi) hingga ke skala
kecil (lingkup jurusan dan angkatan). Saat partai politik tersebut masih
berskala partai gurem, segala aspirasi yang disampaikan melalui pergerakan
mahasiswa masih berkisar pada kepentingan rakyat sehingga pergerakan mahasiswa
masih terasa massif dan jaringan yang dibentuk diamini sebagian besar
mahasiswa.
Namun kondisi berbeda terjadi ketika partai politik
tersebut sudah menjadi partai besar yang berkoalisi dengan partai penguasa
negeri. Pergerakan pun sedikit demi sedikit mulai dikurangi porsinya. Mahasiswa
yang telanjur menjadi kader parpol tersebut praktis mengikuti apa pun yang
disampaikan dewan syuro parpol terkait. Sebaliknya, mahasiswa yang telanjur
terbiasa menyuarakan hati nurani rakyat terpaksa didepak dari kaderisasi hingga
pada 2003 terjadi perpecahan pergerakan mahasiswa aliansi kanan. Gerakan
mahasiswa kanan yang terpecah ini sama sekali tidak kuat karena berjalan dengan
visi-misnya masing-masing.
Saat aktivis BEM 2002-2003 sudah mempunyai BEM
Se-Indonesia (SI), aktivis BEM 2003-2004 justru menandinginya dengan BEM
SE-Jabodetabek. Dari sisi masa dan pengalaman, kekuatan BEM Se-Jabodetabek
masih sangat jauh dari BEM SI. Hanya saja, karena terjadi di masa BEM
2003-2004, praktis legalitas BEM 2002-2003 sudah tidak diakui yang menyebabkan
dukungan terhadap aktivitas pergerakannya kian surut. Kondisi era 2004-2008
adalah kondisi dimana pergerakan mahasiswa sudah benar-benar kehilangan ruhnya.
Bahkan pergerakan terakhir yang mereka lakukan hanyalah bersifat seremonial,
yaitu peringatan 10 tahun reformasi.
Kondisi kosongnya pergerakan mahasiswa menjadi celah
yang membuka peluang bagi pergerakan beraliansi kiri yang sebelumnya selalu
terpinggirkan untuk masuk ke dalam BEM dan membentuk BEM SI baru. Pada era ’98
gerakan ini menamakan dirinya sebagai Forkot dan FRD. Dan karena pada era
tersebut gerakan kiri ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, maka pada era
2000-an awal hingga kini mereka berganti nama menjadi FAM dan FMN. Sudah
banyak yang tau bahwa gerakan mereka biasanya kurang terprogram hingga tidak
jelas mau dibawa ke mana arah pergerakannya. Bahkan sering terdengar
selentingan bahwa sumber pendanaan pergerakannya berasal dari pihak-pihak yang
menggerakannya.
Dan momen rencana kenaikan BBM bersubsidi pada awal
April adalah momen kembalinya munculnya pergerakan mahasiswa yang sayangnya
justru dari aliansi kiri. Maka jangan heran dengan model aksi mereka yang rusuh
dan memakan korban karena ini sesuai dengan nilai revolusi yang diusungnya.
Nama mahasiswa pun tercoreng. Sayangnya, gerakan kanan sudah telanjur memiliki
kontrak politik terhadap partai yang saat ini berkoalaisi dengan partai
penguasa hingga suara gerakan kanan pun nyaris tak terdengar.
Mahasiswa sebagai generasi penentu bangsa adalah sosok
yang tidak bisa dipisahkan dari perubahan bangsa, pergerakannya selalu memiliki arti tertentu dalah
arah kebijakan. Demo-demo yang dilakukan
setidaknya hanya sebagian kecil dari aksi menuju perubahan yang dilakukan oleh
mahasiswa. Ketika Dewan Perwakilan Rakyat yang kita sebut sebagai wakil rakyat
sudah tidak bisa mewakilkan rakyat lagi, disini muncul sosok mahasiswa yang
menyuarakan kembali bagaimana suara dan jeritan rakyat yang selama ini hanya
terlindas begitu saja oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang disibukkan oleh urusan
korup uang negara.
Organinasi oleh mahasiswa yang berjalan sekarang
justru ternodai oleh kepentingan elit sehingga pikiran-pikiran positif untuk
membentuk suatu perubahan terkontaminasi oleh kuasa politik. Padahal harapan
terbesar bangsa ini ada pada mahasiswa.
Apapun itu persoalannya, apalagi yang baru saja
menyandang predikat maha- pada statusnya sebelumnya yaitu siswa, sangat
diharapkan untuk menanam nilai-nilai moral yang baik dengan hati nurani untuk
berjalan dan mengarungi langkah-langkahnya dalam menghadapi persoalan bangsa
sampai pada puncaknya menggantikan posisi pemimpin bangsa.
Ketika itu Taufik Ismail berpidato ketika ospek UGM
2012 di lapangan pancasila, GSP. Beliau berulang-ulang kali memekikkan kalimat
"Jangan Ikuti Generasi Ku" dengan disambut oleh 9000 mahasiswa dengan
tegas dan penuh keyakinan menjawab "Tidak Akan!" Betapa kita masih punya harapan
untuk mahasiswa sebagai iron stock, agen of change dan social control untuk
bangsa kita, bangsa Indonesia yang masih begantung untuk menumpukan harapan
pada mahasiswa.